img-20160518-wa0002

Chef adalah sebuah profesi yang sangat menjanjikan dan memiliki kesan prestisius dalam beberapa dekade terakhir ini. Chef yang awalnya berkonotasi ”tukang masak” atau yang sebelumnya identik dengan baju putih panjang dan bertopi tinggi, sekarang sudah bergeser menjadi tampilan yang modis dan trendi yang terkadang keluar dari pola umumnya.

Saat ini, seorang chef bisa tampil dengan memakai anting atau bahkan dengan tangan penuh gambar tato, menjadi sebuah gambaran profesi yang eksentrik, berpadu dengan skill dalam mengolah makanan, baik berupa masakan maupun produk rerotian (bakery).

Hal ini dipicu dengan bermunculannya aneka acara demo masak di televisi dan media cetak yang mengetengahkan chef dengan berbagai sosok dan dandanan yang mungkin jauh dari gambaran chef yang seharusnya. Itulah yang akhir-akhir ini kita kenal dengan istilah chef celebrity.

Secara sepintas istilah chef berasal dari bahasa Prancis, yang dalam bahasa Inggris memiliki arti chief atau leader, yang berarti pimpinan. Istilah chef sangat melekat dalam industri food services, seperti hotel, institutional kitchen (rumah sakit, katering pesawat), katering, dan restoran cepat saji.

Istilah untuk juru masak atau ahli masak memakai bahasa Prancis karena Prancis adalah negara yang menjadi kiblat kuliner dunia.

Selain itu, Prancis-lah negara yang pertama kali menyebarkan chef ke seluruh penjuru dunia.

Seperti yang diungkap Wayne Gisslen dalam buku Professional Cooking ,chef didefinisikan sebagai seseorang yang bertanggung jawab dalam pengelolaan dapur.

Orang yang bertanggung jawab tersebut memiliki sebutan executive chef, yaitu seorang manajer yang bertanggung jawab dalam pengelolaan seluruh aspek dalam proses produksi, termasuk perencanaan menu, pembelian bahan, perhitungan (costing), perencanaan, jadwal kerja, serta rekrutmen dan pelatihan.

Lalu, bagaimana kita bisa membangun profesi sebagai seorang chef, terutama baker atau chef yang mengkhususkan pada bidang bakery? Bagaimana seseorang bisa disebut sebagai seorang baker chef yang profesional?

Dalam buku Professional Baking, Wayne Gisslen juga menjelaskan bahwa untuk menjadi seorang baker chef (boulanger) yang profesional harus mempelajari berbagai keterampilan teknis yang berhubungan dengan penguasaan pembuatan produk rerotian. Penguasaan keterampilan tersebut merupakan prasyarat utama guna mencapai kesuksesan dalam meniti karier sebagai seorang baker.

Namun, ada hal penting lainnya sebagai penentu kesuksesan, yaitu kualitas pribadi (personal qualities) yang ditunjukkan oleh karakter pribadi seseorang. Beberapa karakter yang harus dimiliki untuk menjadi baker chef adalah sebagai berikut.

 

  1. Kemauan yang kuat dalam bekerja (Eagerness to work).

Seorang baker profesional harus memiliki kemauan kerja yang kuat, baik secara mental maupun secara fisik. Alasannya, industri food service, baik di hotel, bakery, maupun kafe memiliki tuntutan kerja fisik yang panjang (lembur) dan juga tekanan untuk bekerja dengan cepat. Seorang baker dituntut untuk memiliki dedikasi yang tinggi dalam pekerjaannya, yaitu berpegang teguh pada pekerjaannya, bertanggung jawab, memahami seluk-beluk dalam tiap aspek pekerjaan, dan selalu berkeinginan untuk menghasilkan produk dengan kualitas terbaik bagi rekan kerja, atasan, dan juga pelanggan.

Dedikasi yang tinggi akan memudahkan seseorang untuk mau mencoba berbagai resep dan menu baru, memperbaiki cara bekerja (proses kerja), dan memiliki daya juang dalam bekerja dengan jadwal yang padat dan panjang.

 

  1. Memiliki komitmen dalam belajar (Commitment to learn).

Dunia bakery merupakan dunia yang sangat dinamis dan selalu berhadapan dengan hal-hal yang baru. Etika tertinggi dalam dunia kerja ini adalah memiliki komitmen untuk selalu belajar dan tidak ada kata berhenti dalam belajar (long life learning).

Menjadi seorang professional baker mengharuskan seseorang untuk selalu belajar dengan cara membaca, mencoba (bereksperimen), melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, serta membangun jejaring dengan asosiasi bakery dan rekan profesi yang lain.

Selain itu, untuk mengasah keterampilan dalam membuat produk, seseorang harus mengikuti berbagai kompetisi, melakukan update dengan teknologi baking terbaru, mempelajari berbagai manajemen produksi atau manajemen dapur, dan berkontribusi dalam mengisi seminar serta workshop guna lebih mengasah keterampilan yang di miliki.

 

  1. Memiliki dedikasi dalam memberikan pelayanan.

Industri food service pada umumnya merupakan industri yang berhubungan dengan pelayanan dan keramahtamahan. Seorang baker memiliki tugas untuk memberikan kenyamanan dan perasaan senang bagi para pelanggannya.

Namun, sense untuk memberikan pelayanan yang terbaik bagi pelanggan diwujudkannya dengan mencari bahan baku dengan kualitas terbaik, yaitu raw material yang aman dikonsumsi, enak, dan sehat, menjaga proses produksi yang higienis, menjaga lingkungan kerja yang bersih, dan membangun kebersamaan serta rasa hormat dengan rekan kerja.

 

  1. Memiliki rasa bangga akan profesi yang dipilih.

Rasa bangga akan profesi yang dipilih sebagai seorang baker dapat dibangun dengan cara memastikan bahwa pekerjaan yang dilakukan selalu dijaga dengan sikap kerja yang positif, bekerja dengan efisien, rapi, menjaga proses produksi yang aman (safety), dan selalu menjaga kualitas hasil kerja yang berkualitas tinggi.

Seseorang yang bangga akan profesinya akan dapat mengenali bakat orang lain dalam bidang yang sama dan selalu bergairah serta terinspirasi dengan pencapaian yang diraih. Ingin mengetahui lebih lanjut tentang perbedaan Cook, Baker dan Chef silahkan baca buku Pastrypreneur.

Lebih lengkap tentang usaha roti silahkan berkunjung di www.usahabakery.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *