Bakepreneur Road Map merupakan sebuah istilah yang terdiri dari 2 kata utama yaitu Bakery entrepreneurship dan Road Map. Istilah Bakepreneur sejatinya merupakan penggabungan dari kata Baking dan Entrepreneur yang memiliki arti kewirausahaan di bidang Bakery. Sedangkan Road Map kurang lebih berarti Peta Jalan atau peta yang dapat di gunakan sebagai acuan dalam mencapai sebuah tujuan. Komponen-komponen apa saja yang dapat di gunakan sebagai landasan pengelolaan atau manajemen sebuah Bakery . Setidaknya ada 5 komponen utama dalam pengelolaan wirausaha di bidang Bakery, yaitu :

1. Pengelolaan Baker atau Karyawan pembuat roti

Dahulu persepsi Baker hanya di anggap sebagai “Tukang roti” sehingga tugas utama dari team Baker yang ada dalam sebuah Bakery tidak lebih hanya sebagai bagian Pembuat roti. Hubungan kerja yang seperti ini mengakibatkan terjadinya hubungan yang sifatnya sementara (terbatas antara pemilik dan pekerja). Baker hanya di libatkan pada persoalan pembuatan produk dan pertanggung jawaban terhadap kualitas, namun hanya terbatas rutinitas yang terkadang kurang detail dalam meletakkan Standar Kualitas yang diinginkan oleh owner. Guna menjadikan Baker memiliki fungsi yang lebih luas maka Baker harus di libatkan oleh para pebinis Bakery untuk bersama-sama menjaga kualitas terbaik produk yang di hasilkan serta di ajak berfikir kearah pengembangan produk , sehingga akan terbentuk moralitas memiliki (Sense of Belonging) dalam memajukan Perusahaan. Persaingan yang semakin ketat dalam usaha di Bidang Bakery menjadikan pengelolaan Karyawan khususnya Baker pada taraf rasa memiliki (Sense of belonging) menjadi tidak cukup, untuk mengajak mereka menjadi sebuah team yang handal. Ternyata Baker harus juga di kembangkan menjadi mitra dalam memajukan usaha (Baker sebagai partner usaha). Apabila pengelolaan Baker bisa di letakkan sebagai mitra maka secara alami akan timbul rasa loyalitas Baker tersebut untuk perusahaan sehingga mereka akan mudah di ajak bekerja dengan cerdas (smart) , kreatif dan efisien. Apabila sudah mencapai tingkatan seperti ini maka Baker dapat di tingkatkan kualitas managerialnya terutama dari sisi Leadership atau kepemimpinan dan di ajak untuk berfikir dalam memajukan usaha secara berkelanjutan.

2. Penguasaan Technology Bakery

Persoalan yang di hadapi oleh Pebisnis Bakery atau Owner Bakery adalah seringkali kemampuan dalam berproduksi karyawan produksi khususnya Baker hanya itu-itu saja. Mereka kurang memimiliki inisiatif dalam meningkatkan kualitas kerja terutama dalam produksi roti dengan mengikuti sebuah SOP atau Standard Prosedur yang di tetapkan, bahkan terkadang mereka enggan jika dibuat sebuah prosedur tertentu dalam bekerja. Peningkatan pengetahuan dalam proses produksi atau penggunaan teknolog baru dialam sebuah proses produksi harus dilakukan secara bertahap seiring dengan keinginan mencapai tujuan peningkatan kapasitas produksi tanpa mengesampingkan kualitas produk yang dihasilkan yang harus konsisten dari waktu ke waktu. Penguasaan Teknologi harus menjadi prioritas Bakery pada saat mereka harus beradapatasi dengan sistem atau proses pembuatan roti terbaru misalnya penggunaan resep-resep yang menggunakan sistem sponge and dough, pembuatan roti-roti dengan Taiwaness style ataupun sebaliknya penggunaan sistem adonan untuk roti-roti Eropa bahkan dengan cara-cara pembuatan roti tradisional Indonesia. Owner harus memastikan bahwa team Baker sudah bisa beradaptasi dengan pemilihan Teknologi Baru yang di pilih sehingga tidak ada kesenjangan dalam pelaksanaan kerja di Lapangan yang pada akhirnya akan membuat terjadinya banyak gagal produksi atau ketidakmampuan dalam membuat produk sesuai dengan jumlah dan kualitas yang di harapkan oleh Pelanggan, terutama saat orderan melebihi kapasitas kemampuan produksi yang sering kali terjadi pada masa-masa tertentu.

3. Inovasi atau pengembangan produk

Inovation merupakan sebuah kegiatan dalam menciptakan sebuah produk baru ataupun kegiatan apapun yang menghasilkan sesuatu yang baru. Dalam dunia Bakery sebuah inovasi seringkali di samakan dengan pengembangan produk-produk baru atau kegiatan kreatif dalam penciptaan produk baru. Sebenarnya penciptaan produk baru tidak hanya terbatas pada produkknya saja semisal membuat roti jenis baru, membuat cookies dengan rasa baru ataupun pembuatan aneka jenis cake dengan cita rasa baru, namun pengembangan produk dapat di lakukan dengan pengubahan ukuran dengan diikuti pembuatan kemasan untuk sekmen baru ataupun dengan sederhana produk lama dengan kemasan baru. Secara ringkas sebuah inovasi dapat di lakukan baik dari segi resep, tampilan luar dan penggunaan tehnologi baru dalam pembuatan produk. Supaya proses inovasi dapat berjalan secara terus menerus maka owner atau pengelola bakery harus menyisihkan antara 5 – 10% dari keuntungan bersih per tahunnya untuk kebutuhan hal tersebut. Hasil inovasi harus dapat di promosikan dalam waktu tertentu dan dengan cara yang tepat sehingga dapat di komersialisasikan atau di jual kepada pelanggan sebagai sebuah produk (sehingga tercipta repeat-order) ataupun bagi pembentukan pelanggan baru (new customer).

4. Management Bakery (Pengelolaan Manajemen Bakery)

Setelah melihat secara keseluruhan beberapa aspek dasar yang harus di perhatikan dalam pengelolaan Bakery maka tahap selanjutnya adalah pengelolaan manajemen sebuah bakery. Disini kita harus sadar bahwa sebuah usaha bakery sekecil apapun jika terjadi sebuah proses pembuatan produk maka sebenarnya kita sudah harus berfikir bahwa Bakery tersebut merupakan bagian dari sebuah Industry Manufacture (pabrik), hanya skalanya yang berbeda-beda tergantung besar kecilnya usaha yang di jalankan. Dalam sebuah pengelolaan manajemen secara umum sesuatu harus ditetapkan standardnya dengan pembuatan SOP (standard Operating Prosedur) baik di tingkat pembuatan produk, penjualan, finance dan legalitas bakery itu sendiri. Apa saja keuntungan pembuatan sebuah SOP dalam pengelolaan Bakery, adalah sebagaimana berikut:

1. Memudahkan semua lini team dalam melaksanakan tugas

2. Memudahkan dalam pengawasan tiap lini bisnis

3. Menjaga konsistensi produk setiap saat sesuai dengan pesanan pelanggan

4. Memudahkan pengukuran hasil kerja atau kinerja tiap lini kerja dalam bakery.

 

5. Aspek penjualan dan Pemasaran

Sebagaimana kegiatan sebuah usaha maka aspek yang tidak kalah penting bahwa sebuah Bakery harus memiliki strategy pemasaran dan mengetahui dengan pasti kapasitas penjualan yang dapat di raihnya dalam kurun waktu tertentu. Jika di lihat maka strategi pemasaran dapat meliputi beberapa aspek seperti ; jumlah pelanggan rata-rata yang datang ke toko, sekmen pelanggan sesuai dengan produk yang di buat, dan tentunya tahu bagaimana menarik pelanggan baru dengan berbagai program promosi.

6. Branding

Branding adalah sebuah kegiatan yang di lakukan untuk memberikan pengalaman bagi pelanggan dalam menggunakan produk (mengkonsumsi produk), memasuki toko dan sekaligus memperoleh pelayanan selama berbelanja ataupun kemudahan-kemudahan lainnya dalam melakukan transaksi. Bran merupakan kombinasi antara nama “Merk” dan makna yang akan di berikan kepada pelanggan, sehingga akan tercipta ikatan emosional dengan pelanggan anda. Agar Bran Bakery yang anda miliki memiliki perbedaan dengan Bakery lain maka harus ada sesuatu yang berbeda baik dari sisi produk, spirit atau konsep pelayanan sehingga Bakery anda mudah di kenal. Setidaknya harus ada satu produk yang harus unik dan menjadi rujukan saat pelanggan ingin ke bakery anda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *